TIMBUNAN DIKERETA API (Sebuah cerita pendek)

(Oleh : Yohanes Purwoko,B.Min)

Kereta api senja itupun terus melaju dengan kecepatan penuh. Suara  ketukan relnya terus berdetak membentuk irama yang serupa dengan music rock’n roll. Deru angin mendesing bagaikan seruling kelana yang ditiup panjang.  Sementara orang-orang yang didalamnya tengah sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada yang mendengarkan MP3 ditelinganya. Ada yang sibuk mengutak-atik BB nya atau membuat status-status baru di FBnya, atau bahkan yang berSMSan ria. Tidak jarang juga yang hanya membaca Koran atau buku atau majalah. Bahkan ada yang tidur dengan bersandar pada pegangan kursi. Sementara para pedagang ramai menjajagan apa-apa yang mereka jual. Masing-masing meneriaki product mereka . Ada yang dengan santun menawarkan dagangannya, tetapi ada juga yang dengan kurang ajar membagi-bagikan dagangannya untuk dilihat-lihat terlebih dahulu, dengan demikian mengganggu privasi orang. Dan tidak ketinggalan juga para pengamen yang silih berganti menyanyi dengan suaranya yang super false dengan iringan guitar yang sama sekali “nggak nyambung”.

Ditengah-tengah kesibukkan mereka duduklah sepasang kekasih tepat ditengah jajaran bangku penumpang. Seorang wanita muda berkulit kuning langsat. Tubuhnya langsing. Wajahnya oval dengan mata sipit dan mulut mungil. Ia Nampak cantik. Dengan manjanya ia menyandarkan kepalanya kepundak seorang pria muda gagah dengan kulit kecoklatan. Bisa dibilang hitam. Wajahnya sangat tampan dan berwibawa. Siapapun wanita yang melihatnya akan terpikat.  Dan sungguh merupakan pasangan yang serasi. Sekilas pandang saja orang akan melihat bahwa mereka sedang berbahagia.

“Kau bodoh Theresia !”, gumam Marno sambil mengelus-elus kepala kekasihnya itu dengan penuh perasaan. “Mengapa kau mau mengikutiku…?, kau sangat bodoh !”, sambil tangannya terus mengusap-usap kepala Theresia.

“Aku tidak bodoh sayang…”, balas Theresia sambil terus membenamkan diri kedalam pelukkan kekasihnya itu. “Aku tidak salah memilihmu….engkaulah pilihan terbaikku….” Jawab Theresia lirih, “Aku tak tahu apakah aku bisa bahagia tanpamu…?”

“Gara-gara aku kau diusir oleh keluargamu”

“Jangan bilang begitu Mas, aku rela terpisah dari ayah ibuku asal kau selalu ada disisiku…”, Jawab Theresia.

Marno mengecup kening Theresia dengan mesranya. Theresiapun mengencangkan pelukannya, menarik napas dan mengembuskannya di depan wajah Marno. Keduanya tenggelam didalam perasaan yang mendalam. Cinta….CINTA…cintalah yang membuat mereka seperti itu. Mereka sedang melakukan KAWIN LARI  oleh karena hubungan mereka tidak disetujui oleh kedua belah pihak.

Etnislah yang menjadi penyebab penolakkan tersebut.  Theresia adalah keturunan Tiong Hoa. Seluruh keluarganya belum pernah ada yang menikah dengan warga pribumi. Mereka masih kuat memegang adat istiadat nenek moyang. Begitupun Marno. Dia juga dari keluarga yang sangat erat memegang adat istiadat. Namun dari etnis yang berbeda, yaitu Jawa Tengah. Orang tuanya telah memberi  peringatan bahwa semua anaknya tidak ada yang boleh menikah kecuali dengan orang Jawa asli. Marno dan Theresia bertemu di sebuah Universitas di Jakarta. Seiring berjalannya waktu cintapun bersemi diantara mereka. Tanpa memandang apa etnis mereka dan apa agama mereka kedunyapun membuat sebuah ikatan janji.

Berulangkali orang tua mereka menentangnya habis-habisan. Orang tua Theresia telah menjodohkan anaknya untuk menikah dengan seorang anak pemilik Bank. Begitupun orang tua Marno telah mempersiapkan pasangan pengantin buatnya, seorang gadis yang masih berdarah biru. Hingga disuatu saat keduanyapun sepakat melakukan KAWIN LARI.  Dan inilah aksi mereka yang sedang kita ceritakan.

“Kau dari keluarga terpandang Theresia !”, gumam Marno.

“SSSt………”, Theresia menatap lurus kemata Marno. “Diam….jangan ngomong begitu…”

Kemudian keduanya saling berpandangan. Marno mendekatkan bibirnya ke bibir Theresia, lalu menciumnya. Theresiapun membalas ciuman kekasihnya dengan napas memburu. Keduanya tak sadarkan diri bahwa mereka tengah berada ditempat umum. Kereta seolah-olah berubah menjadi  sebuah taman yang indah dibawah siraman mentari senja, dengan bayang-bayang siluet di latar belakang semburat merah muda menyala. Langit seakan penuh bintang berkelap-kelip.

Tiba-tiba sebuah suara mengejutkan:

“INI PEMBAJAKAN ! jangan bergerak !!!”

Semua orang berteriak kaget. Ada yang bangun seolah-olah ingin melarikan diri. Tapi pembajak itu memakinya:

“Duduk, tolol duduk !”

Pembajak itu mengeluarkan senjata apinya lalu mengacungkannya keatas…..

DOR !  sebuah peluru melubangi atap kereta api.

“Tolong……….!” Seorang wanita berteriak.

Sementara Theresia dan Marno yang tengah asyik berciuman itupun sadar dari gejolak emosinya.

“Ada apa ?”, Tanya Theresia kepada kekasinya itu.

“Entahlah”, Marno memeluk Theresia, “jangan takut!”. Theresiapun semakin mengeratkan pelukkannya seakan tak mau terlepas. Dan naluri lelakinya Marnopun terbit untuk melindungi sang belahan jiwanya.

Kembali ke si pembajak. Mereka terdiri dari 5 orang pria yang berpenampilan kumal dan kotor.

“PERHATIAN”, seorang dari mereka berbicara. Penampilannya sangat garang. Wajahnya buas seperti harimau yang hendak memangsa buruannya. Pipinya penuh dengan plester. Ia hanya mengenakan kaus merah yang sengaja disayat-sayat bagaikan habis dicakar beruang. “Nama saya Charles, dan mereka ini teman-teman saya, namanya adalah Ali, Joe,Alex  dan Joden, kami harap kalian bekerjasama dengan kami.”

“Apa maumu ?”, teriak seorang wanita yang duduk dipojok wahon.

“Hahahahaha………..”, Charles tertawa, “Pertanyaan bagus…!”, jawabnya, lalu sambungnya lagi:  “MOHON PERHATIANNYA: Aksi kami ini tidak ada MUATAN POLITIKNYA…..”, Charles berkeliling wahon dengn pistol yang diputar-putarkannya, mirip koboi yang sedang beraksi.  Sementara Ali, Joe, Alex dan Joden sibuk menyandra semua orang dengan tudingan pistolnya.

“Yang kami butuhkan bukanlah POLITIK”, Teriak Charles dengan buasnya. “Kami tidak tertarik dan tidak peduli Negara ini mau dipimpin oleh partai apa dan siapa ?”, Charles terus mondar-mandir sambil memilin-milin kumisnya. Lalu ucapnya lagi: ‘YANG KAMI BUTUHKAN ADALAH UANG…..Uang….sekali lagi U, A, En, Ge……” Charles mengeja kata itu: ‘UANG !!!”.

“Cepat keluarkan uang dan perhiasan kalian dilantai kereta….CEPAT !!!”, Perintah Charles . Semua orang menuruti kata-kata Charles. Mereka menumpahkan isi tas mereka lalu meletakkannya ditengah koridor para penumpang.  Sementara asisten-asisten Charles berkeliling  memunguti barang-barang itu. Ada uang, dompet, emas dan perhiasan, handphone dan sebagainya.

Maka tibalah Ali ditempat duduk Marno dan Theresia. Theresia tengah membenamkan diri kepelukan kekasihnya itu. Tanpa sengaja Ali melihat wajah oval Theresia dengan lipatan mata yang menggemaskan. Maka terbitlah niat isengnya. Disentuhnya dagu Theresia. “Astaga !, cantik nian kau !”, gumam Ali. Tetapi tangan Ali langsung dipegang oleh Marno, “Jaga bicaramu !”, bentak Marno.

“Hahahaha………..”, Ali tertawa terkekeh-kekeh….Mendengar itu  Charles dan para asisitennya yang lainpun menoleh. “Ada apa ini Ali ?”. Tanyanya.

“Perempuan cantik Bos….!”, teriak Ali.

“Jangan kurang ajar kamu !”, Marno menghardik Ali.

“Hahahaha”, Charles dan semua asistennya tertawa. “Kau mau tidur dengan perempuan itu ?”, Tanya Charles dalam rangka melecehkan keduanya.

“MAU DONK….!” Teriak Ali. Semuia asisten Charles tertawa.

“Bangsat !”, hardik Marno. Tapi umpatannya malah mengundang tawa para bajingan itu,

“Ok kalau mau tidur dengan dia…”, kata Charles, “Bantu aku”

“beres Boss”, jawab Ali, “Bantu bagaimana ?”

“Habisi monyet pelindungnya dulu, nanti kau bisa tidur sepuasnya dengan perempuan itu. Tapi sebelum kamu aku dulu, lalu baru tiba giliranmu, setelah kamu Joe, Alex dan Joden “

Marno naik pitam mendengar itu, lalu ia berdiri meninju Ali. Ali terhuyung kebelakang. Namun Marno lupa bahwa disamping Ali masih ada Alex, Joe dan Joden. Serta merta mereka menangkap tubuh Marno. Marno menggeliat hendak lepas. Namun mereka tanpa ampun meninju, menampar dan menendang Marno, hingga Marnopun jatuh dilantai kereta. Lalu bagaimana dengan Theresia ?. Melihat pelindung Theresia telah dilucuti Charles pun cepat-cepat memburu Theresia. Theresia sangat ketakutan. Dia berteriak meminta pertolongan. Namun apa daya dirinya hanyalah seorang wanita lemah yang anggun. Tiada ilmu beladiri yang dikuasainya.  Dengan buasnya Charles memperkosa Theresia didepan Marno dan seluruh penumpang yang ada.  Theresia terus memberontak dan berteriak-teriak.

“Jangan lakukan itu ….!”, teriak Marno sementara tubuhnya dipegangi oleh Joe, Alex dan Joden.  Namun entah mendapat kekuatan dari mana Marno berhasil lepas lalu berlari kearah Charles yang tengah memperkosa kekasihnya itu. Kemudian menendangnya:

“BIADAB….!!!”, teriaknya…..

“HAHAHA……….pacarmu enak, aku sudah puas !”, ejek Charles, sambil mengenakan kembali busananya. Sementara Theresia pingsan dengn pakaian koyak bagian bawahnya. “Sekarang giliran Ali”.

“KURANG AJAR !”, Marno menerjang Charles. Keduanya saling baku pukul. Singkat cerita seluruh asisten Charles telah puas menodai tubuh mungil Theresia.  Lalu Charles mendorong Marno yang telah letih berkelahi itu. “Hahahaha……..sekarang ambil kembali pacarmu itu…..”, Charles menendang bokong Marno hingga ia terjatuh menimpa tubuhnya Theresia. Namun Marno menahan dengan tangannya sehingga ia tidak menindihi tubuh Theresia yang tergeletak dilantai kereta api.

“Theresia…Theresia !”, Marno memanggil nama kekasihnya. Namun tiada jawaban dari perempuan itu.

Lalu Marno memeriksa keadaan nadinya. Astaga. Marno terkejut. Tak ada getaran sama sekali. Marno memeriksa dada Theresia. Astaga tak ada lagi napas, tak ada lagi detak jantung…………

“OH TUHAN !!!”

Dengan kalapnya Marno menerjang Charles dan rombongannya yang sedang bersiap-siap hendak melompat dari kereta api oleh sebab misi mereka telah sukses, bahkan telah berhasil menikmati tubuh seorang wanita cantik.

“BANGSAT KAU……….TERKUTUK KAU !!!”, Marno menendang Charles. Terjadi baku hantam lagi . Dan sekalipun dikeroyok oleh lima orang Marno seakan mendapat kekuatan entah darimana. Mungkin berasal dari dendamnya akan kematian kekasihnya itu.  Dan Marnopun berhasil mencabut sepucuk pistol yang sedang disandang oleh Ali. Dengan cekatan diarahkannya  pistolnya itu kepada Charles.

DOR !

Charlespun jatuh terkapar. Joe membalas tembakkan Marno. Tetapi Marno berhasil mengelak, lalu berlari kebalik bangku.

DOR !  Tembak Joden dari kiri mengenai dinding kereta api sebelah kiri Marno. Sementara orang yang lain berteriak –teriak ketakutan. DOR ! Marno kembali menembakkan pistolnya memecahkan jendela kereta.

DOR ! Joe menembak. Tapi pelurunya mengenai seorang anak kecil yang langsung meninggal saat itu juga. Semua orang menjerit ketakutan.  DOR !, Marno meletuskan pistolnya mengenai Joden, dan Jodenpun langsung mampus saat itu juga.

Marno kemudian mengarahkan pistolnya ke Ali. Menembaknya. Dan matilah Ali saat itu juga.  DOR ! marno menembak Alex yang langsung terpelanting memecahkan jendela wahon kereta api dan langsung melayang keluar kereta api.

SEMUA PENJAHAT ITU TELAH MATI. Pikir Marno. Tapi, DOR ! Marno segera mengelak dibalik bangku. Ternyata Charles belum mati. Keduanya bertembak-tembakkan hingga peluru mereka terkuras semuanya. Sekarang mereka bertarung dengan tangan kosong. Dan pertarungan mereka berjalan seimbang karena satu lawan satu.

TAPI

“SEMUA JANGAN BERGERAK !”

Team keamanan segera datang dengan pistol teracung kepada keduanya…….

TAPI YA TERLAMBAT !

Korban telah berjatuhan.

Mayat-mayat bergelimpangan…..

menjadi ………

TIMBUNAN DI KERETA API.

 

 

 

 

Selasa 22 Februari 2011

Oleh Yohanes Purwoko

BUKAN KISAH SEBENARNYA

Segala peristiwa, nama dan tempat hanyalah rekaan semata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s